Tampilkan postingan dengan label awet muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label awet muda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 April 2013

Dari 11 Manfaat Seks Teratur, Terbukti Bisa Bikin Wanita Lebih Sehat dan Cantik

kulit halus tanda sek aktif
Dari kehalusan kulitnya, seseorang bisa diketahui tergolong aktif secara seksual atau tidak. Benarkah?

Berbagai penelitian tentang manfaat kesehatan dan berhubungan intim memang pernah dillakukan. Percaya atau tidak, berikut ini 11 temuan penelitian yang dihasilkan:

1. Seks adalah perawatan kecantikan
Tes yang dilakukan para ilmuwan mendapati, saat perempuan bercinta, tubuh mereka memproduksi hormon estrogen yang membuat rambut makin bersinar dan kulit semakin halus.

2. Bercinta membuat kulit berkilau
Bercinta dengan santai dan nyaman mengurangi kemungkinan terkena dermatitis, parut, dan bercak di kulit. Keringat yang dihasilkan saat bercinta membersihkan pori-pori, sehingga membuat kulit berkilau.

3. Bercinta bakar kalori
Bercinta akan membakar kalori yang terhimpun saat perjamuan sebelumnya.

4. Seks adalah olahraga
Seks merupakan olahraga yang aman dilakukan, Gerakan-gerakan saat berhubungan intim merentangkan dan membentuk seluruh otot di tubuh.

5. Seks penyembuh depresi
Seks merupakan penyembuh ampuh untuk depresi ringan. Hormon endorfin yang terlepas dan mengalir ke aliran darah saat kegiatan seks berlangsung menimbulkan perasaan gembira dan sejahtera.

6. Semakin Seksi
Semakin sering berhubungan intim akan semakin meningkatkan daya tarik seks. Tubuh yang secara seksual tergolong aktif akan memancarkan senyawa yang bernama pheromones. Inilah parfum lembut pemicu gairah seks yang membuat lawan jenis berselera.

7. Seks dan ketenangan jiwa
Seks merupakan obat penenang paling aman di dunia. Katanya, sih, 10 kali lebih efektif dibanding valium.

8. Ciuman tiap hari sehatkan gigi
Berciuman merangsang saliva mencuci gigi dan menurunkan tingkat keasaman penyebab gigi busuk, sehingga mencegah penimbunan plak.

9. Seks menyembuhkan sakit kepala
Sesi percintaan akan mengendurkani tensi yang menghambat aliran darah di otak.

10. Seks legakan hidung
Berhubungan intim bisa melonggarkan hidung yang tersumbat. Seks adalah antihistamin alami yang dapat meningankan asma dan flu.

11. Seks cegah kanker prostate pada lelaki
Seks juga bermanfaat bagi lelaki yang berisiko terkena kanker prostat. Menurut penelitian National Cancer Institute di AS, sebagaimana dikutip Alternative Medicine, semakin sering pria mengalami ejakulasi, semakin rendah pula kemungkinan mereka terkena kanker prostat.

Periset meneliti 29.000 lelaki berusia 46 hingga 81 tahun. Dibanding mereka yang rata-rata hanya ejakulasi tujuh kali atau kurang dalam sebulan, lelaki yang rata-rata ejakulasi 21 kali memiliki kemungkinan 33 persen lebih kecil untuk terkena gangguan tersebut. Namun, tidak dijelaskan apakah ejakulasi itu diperoleh melalui hubungan seks atau onani.

Minggu, 24 Maret 2013

DIBANDING PRIA, WANITA LEBIH TERTEKAN BILA BERBICARA USIA


Siapa orangnya yang ingin cepat tua dan sakit-sakitan,betul kan? Tentu tak ada yang mau. Sama halnya dengan hasil sebuah survei baru yang mengungkap bahwa orang-orang Amerika begitu khawatir terhadap proses penuaan, terutama dengan dampaknya terhadap kesehatan. Namun dari survei yang sama juga diketahui pria tampaknya lebih mudah menghadapi proses ini ketimbang wanita.

Dari sebuah polling nasional terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa di AS diketahui bahwa 90 persen responden percaya jika wanita jauh lebih tertekan untuk tampil lebih muda daripada pria. Pria sendiri baru dianggap tua jika usianya lima tahun lebih tua dari wanita, termasuk lebih seksi di usia yang lebih tua.

Begitu juga dengan uban atau rambut putih yang kerapkali dijadikan indikator tua tidaknya usia seseorang. Uban pada pria membuatnya keren tapi jika wanita yang ubanan, kondisi itu langsung diasosiasikan dengan usia tua. Bahkan untuk urusan usia, ketika wanita dianggap paling atraktif pada usia 30 tahun, pria dianggap paling atraktif ketika menginjak usia 34 tahun.

"Survei ini jelas-jelas menunjukkan bahwa penuaan, terutama jika kita berbicara soal penampilan, merupakan titik emosional yang nyata baik bagi pria maupun wanita, tak peduli apakah usia mereka 20, 40 atau 60 tahun," tandas Kristin Perrotta, eksekutif direktur majalah Allure, yang menggelar survei ini.

"Orang-orang pun mengaku mengkhawatirkan efek penuaan secara berlebihan. Mereka takut hal itu dapat mempengaruhi atraktivitas mereka di hadapan lawan jenis, terutama pada wanita. Bagi wanita, penuaan juga dapat mempengaruhi karir mereka," lanjutnya.

Hal ini terlihat dari jawaban 42 persen responden wanita berusia 50-59 tahun yang mengaku merasa perlu terlihat muda agar bisa sukses dalam pekerjaan, meski sebenarnya baik responden pria maupun wanita sepakat jika gender lebih banyak dijadikan bahan diskriminasi di tempat kerja daripada usia.

Selain itu, kendati sama-sama takut tua, 60 persen responden mengira diri mereka terlihat lebih muda daripada orang lain yang seumuran. Bahkan responden pria dan wanita pun berpendapat bahwa hubungan seksual mereka membaik seiring dengan pertambahan usia.

"Uniknya orang-orang akan memiliki lebih banyak pandangan positif terhadap penuaan, termasuk pada diri sendiri dan penampilan mereka ketika usianya beranjak makin dewasa," terang Perrotta seperti dilansir dari huffingtonpost, Minggu (24/3/2013).

Yang cukup mengejutkan, lima persen responden mengaku menjalani operasi plastik atau suntik Botox untuk melawan tanda-tanda penuaan. Begitu juga dengan 42 persen responden wanita dan 18 persen pria lain yang mengaku akan mempertimbangkan untuk menggunakan metode itu di masa depan.

Tapi satu dari tiga responden yang menjalani suntik Botox atau operasi plastik mengaku masih merahasiakannya.

"Di Barat operasi plastik memang telah menjadi bagian dari kultur, tapi pada level perorangan, metode ini masih terbilang sangat pribadi. Bahkan sebagian besar orang yang pernah disuntik Botox atau menjalani operasi plastik mengaku jarang mengungkapkannya pada saudara, pacar, ataupun sahabatnya," tutup Perrotta.

sumber: http://health.detik[dot]com